Cara Membeli Saham Tepat Waktu

Cara Membeli Saham Tepat Waktu

KOMPAS.com - Setiap orang tentunya ingin membeli (saham) di harga yang paling murah dan menjualnya di harga yang paling mahal.

Hal ini menunjukkan bahwa seseorang ingin membeli atau menjual dengan presisi (ketepatan). Di mana presisi bisa diraih dari presisi waktu atau presisi harga beli/jual saham.

Oleh karena itu banyak orang berbondong-bondong mencari metode supaya bisa presisi, baik presisi waktu maupun presisi menetapkan harga jual/beli saham.

Namun berita buruknya adalah tidak ada alat, cara, atau metode yang selalu presisi dalam menentukan waktu maupun harga jual/beli suatu saham.

Tapi, jika Anda memberikan toleransi dalam menentukan waktu maupun harga jual/beli yang tidak selalu presisi, maka terdapat banyak cara.

Pesan penting pertama adalah jangan pernah mempercayakan uang Anda di pasar modal pada sebuah alat (tools) yang banyak ditawarkan perusahaan di luar sana yang selalu menjanjikan keuntungan yang pasti. Sebab hal yang demikian tidak akan pernah ada.

Umumnya, banyak orang kapok dan berhenti berinvestasi akibat kehilangan uang (merugi) ketika mempercayakan uang dan harapannya pada alat (tools) yang menjanjikan keuntungan tersebut.

Ketika Anda berusaha mencari presisi waktu atau harga saat trading (berdagang) saham, maka Anda akan memerlukan indikator.

Indikator dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu lagging indicator dan leading indicator.

Leading indicator adalah indikator yang memberikan sinyal sebelum terjadi suatu peristiwa di perdagangan saham.

Sedangkan, lagging indicator adalah indikator yang memberikan sinyal ketika sudah terjadi suatu peristiwa di perdagangan saham.
Sinyal yang dihasilkan lagging indicator lebih terlambat dibandingkan leading indicator.

Leading indicator tidak lebih unggul daripada lagging indicator.
Leading indicator hanya mengidentifikasi sinyal lebih awal dibandingkan lagging indicator.
Sinyal yang muncul lebih dini/lebih dulu terkadang memberikan sinyal yang error.

Contoh, sebuah indikator gempa mengidentifikasi akan terjadinya tsunami, tapi bukan berarti munculnya sinyal tersebut memastikan akan terjadi tsunami.

Hal yang lebih penting dari sebuah trading/perdagangan saham bukanlah sinyalnya, melainkan konsekuensi hasil keputusan Anda ketika memilih bertindak berdasarkan tanda sinyal tersebut.

Banyak orang fokus mencari alat atau indikator trading tanpa mengetahui atau mengerti kelemahan dari setiap alat/indikator atau suatu metode.

Leading indicator tidak selalu lebih unggul daripada lagging indicator, begitu pula sebaliknya.
Trader harus menyesuaikan keputusan tindakannya sesuai dengan skenario trading (trading plan).

Contoh, bila Anda adalah orang yang melakukan trading dengan memanfaatkan perubahan sebuah trend yang singkat, maka pengambilan keputusan menggunakan lagging indicator akan menyebabkan Anda selalu terlambat mengambil keputusan.

Sedangkan, apabila Anda ingin membeli saham yang mengalami perubahan trend dalam rentang waktu yang panjang, maka akan lebih cocok menggunakan lagging indicator, yang menghindari perubahan-perubahan trend kecil yang terjadi dalam rentang waktu pendek dan fokus pada rentang waktu yang panjang.

Satu buah indikator bisa berfungsi sebagai lagging sekaligus leading indicator.
Hal ini bisa terjadi karena tergantung bagaimana cara trader membaca indikator tersebut.

Simple Moving Average (SMA) atau Moving Average (MA) adalah salah satu contoh indikator yang bisa berfungsi sebagai leading maupun lagging indicator.

Leading Indicator

SMA/MA bisa berfungsi sebagai leading indicator ketika garis-garis yang terbentuk dimanfaatkan sebagai support dan resistant.

Contoh, garis SMA 20 artinya adalah garis Simple Moving Average yang terbentuk dari pergerakan harga rata-rata selama 20 hari.

Jika garis SMA 20 berada di atas sebuah harga saham (candlestick, bar, atau line chart), maka SMA 20 berfungsi sebagai target jual atau resistant.
Dan ketika garis SMA 20 berada di bawah sebuah harga saham (candlestick, bar, atau line chart), maka SMA 20 berfungsi sebagai target beli atau support.

Garis SMA 20 dikatakan sebagai leading indicator karena mampu memberikan acuan kepada trader untuk bertindak/mengambil keputusan trading sedini mungkin, meskipun pergerakan harga saham besok hari belum terjadi.

Lagging Indicator

Garis SMA 20 bisa berfungsi sebagai lagging indicator ketika persilangan antar garis dan harga saham (candlestick, bar, atau line chart) dijadikan sinyal jual atau beli.

Ketika pergerakan harga saham menembus garis SMA 20 dari bawah ke atas artinya terjadi penguatan harga dalam jangka waktu 20 hari (periodenya 20 hari karena menggunakan SMA 20).

Pada umumnya akan terjadi kenaikan harga terlebih dahulu sesaat sesudah penembusan garis SMA oleh harga.

Oleh karena itu, SMA 20 berfungsi sebagai lagging indicator.

Rangkuman

1. Indikator apapun bisa berfungsi sebagai lagging maupun leading indicator.

2. Tidak ada indikator yang selalu benar.

3. Ketika SMA/MA dimanfaatkan sebagai garis yang ada di atas maupun di bawah pergerakan harga saham, maka SMA/MA berfungsi sebagai leading indicator.

4. Ketika SMA/MA dimanfaatkan sebagai garis yang ditembus oleh pergerakan harga sehingga terjadi persilangan (crossing), maka SMA/MA berfungsi sebagai lagging indicator.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *